Dewasa ini perkembangan teknologi dan informasi menimbulkan tingkat persaingan industri yang semakin ketat sehingga kegiatan produksi menjadi lebih efektif, efisien, dan serba cepat. Perkembangan teknologi dan informasi ini harus diiringi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Tantangan bagi suatu industri ialah dalam meningkatkan daya saing dan keunggulan yang bersifat kompetitif di semua bidang termasuk jasa, mengutamakan kemampuan sumber daya manusia, teknologi informasi dan manajemen. Selain itu , lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia tidak secara cepat dalam beradaptasi dengan kebutuhan dunia pada industri modern.
Para lulusan Perguruan Tinggi tidak cukup apabila hanya menguasai hardskills saja, namun diharuskan menguasai softskills sebagai penunjang dari hardskills agar dapat bekerja secara produktif dan memiliki kualitas. Sikap tersebut tentunya akan mempengaruhi mutu, cepat, tepat, dan efisien, menghargai waktu serta reputasi. Pembentukan sikap ini harus dibina sejak awal melalui proses pembiasaan kerja yang dikembangkan serta diselaraskan dengan kebutuhan pembelajaran.
Seseorang dengan kemampuan softskills yang baik akan mencerminkan kemampuan yang melebihi dari kapasitas sebagai tenaga kerja. Kemampuan ini timbul karena secara mandiri mampu menggerakkan proses-proses internal untuk terus belajar, berusaha dan menemukan sesuatu yang memberi keuntungan bagi pekerjaannya ataupun bagi pengembangan diri.
Sebagai mahasiswa, kita senantiasa dituntut untuk dapat mengembangkan softskill yang kita miliki. Tentunya tidak hanya untuk nilai tugas semata ataupun yang berkaitan dengan pembelajaran suatu mata kuliah, melainkan sangat penting untuk pandangan yang lebih jauh lagi dalam mengasah kemampuan softskill kita di dunia kerja. Oleh karena itu, kami selaku tim penyusun artikel ini akan menjelaskan mengenai softskill yang akan berguna untuk pembaca khususnya mahasiswa.
Menurut UNESCO menganai softskill (juga dikenal sebagai keterampilan non-kognitif) adalah pola pemikiran, perasaan, dan perilaku (Borghan et al., 2008) yang ditentukan secara sosial dan dapat dikembangkan sepanjang hidup untuk menghasilkan nilai. SoftSkill dapat terdiri dari ciri-ciri kepribadian, motivasi, dan sikap dalam dunia kerja serta kemampuan beradaptasi di lingkungan. Softskill juga dapat diartikan sebagai keterampilan hidup yang membantu seseorang menyesuaikan dengan tuntutan di dunia kerja, untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan kerja yang berubah-ubah, serta berkembang dalam lingkungan yang kompetitif. Softskill termasuk keterampilan non-teknis yang memiliki manfaat dalam dunia kerja yang membantu dan memotivasi orang-orang dalam menjalankan perkerjaan mereka.
Berikut merupakan beberapa pengertian mengenai SoftSkill :
- SoftSkill adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan "EQ" seseorang (Emotional Intelligence Quotient), yaitu ciri-ciri kepribadian, kemampuan sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang mencirikan hubungan individu dengan individu lain (Paajanen 1992). Softskill melengkapi hardskill (bagian dari Intelligent Quotient seseorang), yang merupakan persyaratan pekerjaan dan banyak kegiatan lainnya. Softskill seseorang adalah bagian penting dari kontribusi individu terhadap keberhasilan suatu organisasi. Khususnya organisasi-organisasi yang berurusan dengan pelanggan tatap muka umumnya lebih sukses jika mereka melatih staf mereka untuk menggunakan softskill. Skrining atau pelatihan untuk kebiasaan atau sifat pribadi dapat menghasilkan signifikan dalam pengembalian investasi untuk suatu organisasi (Giusti 2008). Karena alasan ini, softskill semakin dicari oleh pengusaha selain kualifikasi standar.
- Softskill adalah kualitas diri yang membantu kita membangun, memelihara, dan memperkuat hubungan. Softskill memungkinkan setiap individu untuk beradaptasi dengan perubahan yang datang dengan usia, pengalaman hidup dan pekerjaan. Softskill membuat bekerja bersama lebih mudah dan membantu menavigasi tantangan baru yang mungkin timbul di lingkungan kerja. Kemampuan ini terhubung dengan kecerdasan emosional, kemampuan untuk melihat diri sendiri dalam konteks orang lain dan bagaimana tindakan individu memengaruhi individu lain.
SoftSkill adalah ciri-ciri kepribadian produktif yang menjadi ciri hubungan intra dan interpersonal di lingkungan sosial. Sebuah definisi berdasarkan literatur peninjau menjelaskan softskill sebagai istilah payung untuk keterampilan di bawah tiga elemen fungsional utama: keterampilan orang, keterampilan sosial, dan atribut karir pribadi.
- Menurut O’Brien (2002) , softskill adalah keahlian yang terdiri dari 6 komponen, yaitu kemampuan komunikasi, kepemimpinan, organisasi, kerja keras, usaha dan juga etika.
- Menurut Elfindri, dkk (2011), softskill sebagai bentuk keterampilan hidup dalam bermasyarakat, baik itu untuk individu, berkelompok maupun dengan Sang Pencipta. Dalam hal ini, keterampilan yang dimaksud adalah komunikasi atau interaksi.
- Menurut Putra dan Pratiwi (2005:5), softskill sebagai kemampuan-kemampuan yang tidak dapat terlihat dan harus dimiliki atau diperlukan dalam mencapai kesuksesan.
Hardskill dapat diukur oleh pengamat tanpa mengacu pada
emosi dan perasaan kita terkait situasi. Contohnya keterampila menggunakan
Microsoft Office, menggunakan alat elektronik, dan lainnya.
Hardskill meliputi kompetensi teknis atau administrasi
sedangkan soft skill umumnya digunakan untuk merujuk ke sisi emosional manusia.
IQ (Intelligent Quotient) termasuk dalam hardskill.
Hardskill adalah keterampilan yang menjadi prasyarat dalam dunia kerja atau karier dan umumnya dapat diukur dan diukur dari latar belakang pendidikan, pengalaman kerja atau melalui wawancara. Hard skill merupakan ukuran kompetensi objektif individu.
Softskills dapat diukur secara bermakna dalam batas-batas
budaya dan linguistik. Langkah-langkah tersebut termasuk kombinasi metode yang
mencakup kepribadian yang dilaporkan sendiri, survei perilaku, dan penilaian
psikologis objektif. Pengukuran juga dapat ditingkatkan dengan mengumpulkan
data dari berbagai sumber di seluruh konteks pembelajaran seperti lingkungan
sekolah, konteks keluarga dan komunitas yang lebih luas. Namun, pengukuran softskill masih dipertanyakan dikarenakan pengukuran yang digunakan masih bersifat
bias.
Softskills meliputi pemikiran kritis, pemecahan masalah, kreativitas,
berbicara di depan umum, manajemen diri, penangan kondlik, penulisan
profesional, kerjasama tim, literasi digital, kepemimpinan, sikap profesional,
etos kerja, emotional inteligence (kecerdasan emosional), manajemen karir ,
kelancaran antarbudaya, dan lainnya. Keterampilan ini juga mencakup sopan santun, tanggung
jawab, harga diri, integritas, kejujuran, kemampuan berkomunikasi, keterampilan
berbahasa, kemampuan bernegosiasi, kebiasaan pribadi, empati kognitif atau
emosional, dan manajemen waktu.
Berikut merupakan penerapan softskill :
- Mendelegadikan Tugas , Kepemimpinan adalah tentang memahami kekuatan anggota tim, seberapa besar tanggung jawab yang mereka dapat tangani, dan berkomunikasi terkait apa yang dibutuhkan. Seorang individu mungkin perlu memastikan anggota timnya berada di jalurnya, mengidentifikasi titik-titik yang sulit dalam melaksanakan tugas, dan membantu menemukan solusi untuk setiap masalah.
- Menerima Umpan Balik, Menerima umpan balik membangun kepercayaan antar individu. Seorang individu belajar dari umpan balik apakah tndakannya memenuhi tujuan yang ditentukan atau menargetkan untuk meningkatkan kualitas diri sebagai seorang individu, profesional, manajer atau anggota tim. Memberikan umpan balik yang analitis, konstruktif, dan motivasi adalah hal menantang sebagai seorang pemimpin. Seni memberi atau menerima umpan balik menggabungkan banyak keterampilan seperti empati, kecerdasan emosional dan mendengarkan secara aktif.
- Performa Yang Menginspirasi, Pemodelan softskill seperti etos kerja yang kuat, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi dapat benar-benar menginspirasi kolega. Anggota tim akan belajar dari kualitas-kualitas ini dan mendapatkan skill baru untuk menghadapi tantangan kerja mereka berikutnya.
- Melaksanakan Interview, Untuk mendapatkan hasil maksimal dari interview, seorang individu harus mengetahui cara membaca resume secara kritis dan mengajukan pertanyaan yang relevan. Kemampuan ini membutuhkan kecerdasan emosional dan keterampilan mendengarkan dan berkomunikasi yang kuat.
Softskill dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu softskill internal dan eksternal. Softskill internal adalah kemampuan terkait
bagaimana seorang individu merelasikan dirinya dengan dirinya sendiri dan
meliputi, misalnya, kepercayaan diri, menerima kritik, pemikiran kritis,
ketahanan, dan pertumbuhan pola pikir. Softskill eksternal adalah kemampuan
terkait bagaimana seorang individu berhubungan dengan individu lain dan
lingkungan di sekitarnya. Contoh softskill eksternal mencakup keterampilan
dalam kolaborasi, komunikasi interpersonal, menangani konflik, kemampuan
beradaptasi, networking, dan bernegosiasi.
Dua kategori ini terbagi lagi dalam beberapa cabang yang diantaranya :
- Self-Image/Pandangan
Diri, Kemampuan yang berdasarkan pada kualitas diri
seorang individu, meliputi akuntabilitas, kesabaran, kontrol diri,
kewirausahaan, orientasi kepada tujuan, motivasi diri, manajemen diri,
ketangguhan, initiatif, dan kegigihan.
- Pandangan Dunia Secara Luas, Kemampuan yang berdasarkan kepada pandangan individu terhadap suatu keadaan secara luas, diantaranya kemampuan untuk mempertimbangkan kepuasan individu lain, bersifat tekun, menghargai privasi, meningkatkan perkembangan diri sendiri, bersikap positif, dapat diandalkan, bertindak secara efisien, memberi respek terhadap lingkungan, dan dapat beradaptasi
- Konteks, Kemampuan yang berdasarkan pada konteks lingkungan kerja, yaitu kemampuan untuk membimbing, networking, berperilaku secara etis, bernegosiasi, memimpin, memotivasi orang lain, berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan bekerja sama.
- Performa, Kemampuan yang berdasarkan pada performa seorang individu di lingkungannya yang meliputi kemampuan menghadapi dan menyelesaikan konflik antar indvidu, kreativitas individu, kemampuan berorganisasi, mengambil keputusan, mempertahakan kualitas, strategis dalam berpikir, menyelesaikan masalah, dan berpikir kritis.
Setiap kemampuan ini memiliki cabang-cabang sendiri, seperti contoh kemampuan berkomunikasi terdiri dari kemampuan mendengarkan, pemahaman dalam membaca, kemampuan berbicara, dan kemampuan menulis .Keseluruhan cabang-cabang ini nantinya juga data dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu kualitas personal, kemapuan interpersonal, dan pengetahuan atau kemampuan tambahan.
Softskill adalah salah satu keterampilan yang paling dicari
di dunia kerja. Kemampuan ini adalah keterampilan yang mudah dialih fungsikan
dan tidak terikat dengan pekerjaan tertentu. SoftSkill berkisar pada hubungan
pribadi, karakter, dan sikap. Dengan mengembangkan atribut ini, seorang
individu dapat membangun hubungan intra dan interpersonal yang lebih kuat dan
dapat meningkatkan kinerja kerja.
Perlu diingat bahwa setiap hal baru membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang baru. Pengetahuan baru adalah informasi yang bermanfaat bagi seorang individu. Keterampilan baru dapat menerapkan pengetahuan baru secara efektif. Kemampuan baru adalah kapasitas untuk secara efektif menerapkan keterampilan itu dalam berbagai situasi. Jadi, untuk mengembangkan softskill, seorang individu perlu berlatih serta ikut serta dalam bimbingan materi tentang softskill, idealnya dengan bimbingan seseorang yang memiliki keterampilan yang kuat dalam mengajarkan softskill. Setiap individu memiliki caranya sendiri dalam meningkatkan kemampuan soft skill mereka.
Berikut adalah beberapa cara meningkatkan softskill yang
umum digunakan dalam kursus-kursus softskill yang terbuka untuk umum secara
online :
Diagram di atas memperlihatkan hal-hal yang harus dipelajari
dalam meningkatkan kemampuan berkomunikasi, yaitu :
- Komunikasi , Dapat ditingkatkan dengan berlatih untuk mengekspresikan ide secara lisan dan tulisan.
- Keandalan, Dapat ditingkatkan dengan memahami tugas dan memenuhi tenggat waktu.
- Initiatif, Dapat ditingkatkan dengan melaksanakan tindakan yang dimulai dari diri sendiri, memiliki wawasan luas, mengembangkan ide dan metode kerja untuk meningkatkan kualitas kinerja, serta berpatisipasi dalam pelatihan dan seminar.
- Kerjasama , Dapat ditingkatkan dengan bersikap koperatif, menawarkan bantuan dan dukungan, beradaptasi terhadap lingkungan dan terbuka terhadap perubahan.
- Berfikir Kritis , Dapat ditingkatkan dengan berpikir dengan cermat dan hati-hati dengan berorientasi pada tujuan .
- Aktif Mengikuti Organisasi, Dapat ditingkatkan dengan mengikuti salah satu atau beberapa organisasi yang sesuai dengan kemampuan, minat dan bakat. Dengan begitu softskill dapat ditingkatkan dengan efektif.
- Perbanyak Diskusi dan Membaca Buku, Dapat ditingkatkan dengan membaca buku untuk memperbanyak kosakata, memperluas pengetahuan dan berdiskusi terkait fenomena yang sedang terjadi untuk dapat saling bertukar pikiran terkait fenomena tersebut.
- Kenali Diri Sendiri, Dapat ditingkatkan dengan mengenali diri sendiri terlebih dahulu secara keseluruhan. Dengan begitu akan memahami kemampuan yang dimiliki serta dapat mulai mengasah dan mempelajari kemampuan tersebut.
Pentingnya sofskill terletak pada kenyataan bahwa mereka
tidak terbatas pada bidang tertentu karena softskill terdiri dari
kemampuan-kemampuan yang dapat digunakan dalam setiap aspek kehidupan
masyarakat, tanpa perlu mengadaptasinya berdasarkan situasi. Keterampilan lunak
membuat orang fleksibel di dunia yang terus berubah.
National SoftSkill Association mengutip penelitian yang
dilakukan oleh Universitas Harvard, The Carnegie Foundation dan Stanford
Research Center. Ditemukan bahwa 85% keberhasilan kerja datang dari memiliki
kemampuan soft skill yang baik dan 15% lainnya
berasal dari keterampilan teknis dan pengetahuan (hardskill).
American Management Association menulis "Penelitian dilakukan dengan Fortune 500 CEO oleh Stanford Research Institute International dan the Carnegie Melon Foundation, menemukan bahwa 75% dari kesuksesan kerja jangka panjang tergantung pada keterampilan soft skill, sementara hanya 25% untuk pengetahuan teknis."
Berikut merupakan alasan mengapa softskill penting bagi setiap orang dalam kehidupan sehari-hari :
1. Hardskill
kurang efektif apabila tidak ada kemampuan softskill.
2. Kemampuan
interpersonal dalam tempat kerja seperti mampu mendengarkan dengan baik,
bekerja sama dengan anggota, serta mampu berkomunikasi dengan baik.
KARAKTERISTIK SOFTSKILL
Softskills memiliki karakteristik sebagai berikut:
- Bersifat generik, dalam arti digunakan dalam berbagai penyelesaian tugas yang berbeda.
- Dapat ditransfer dan diterapkan dalam berbagai aktivitas pelaksanaan tugas, disebut juga sebagai keterampilan hidup (life skills).
- Merupakan keterampilan atau atribut yang terdapat dalam aktivitas seperti pemecahan masalah, komunikasi, pemanfaatan teknologi, dan bekerja dalam kelompok.
- Dapat dipromosikan sebagai keterampilan yang memberi dalam ‘pembelajaran seumur hidup’ (‘life long learning’).
- Dapat dimiliki dan digunakan oleh pengusaha dan organisasi pemerintah.
- Dapat ditransfer dalam berbagai konteks yang berbeda oleh orang-orang yang memiliki latar belakang disiplin ilmu, profesi dan jabatan yang berbeda-beda.
Softskill meningkatkan kemampuan yang diantaranya yaitu :
Lebih baik dalam mengelola diri mereka dengan lebih sadar akan kemampuan diri dan menerima diri mereka sendiri.
Lebih tangguh dan mudah beradaptasi, terutama dalam situasi yang kompleks dan menantang.
Dapat bekerja secara efektif dengan orang lain dengan memiliki kepercayaan diri untuk memberi dan menerima umpan balik yang bermanfaat dan melalui pembinaan dengan orang lain.
Lebih mudah dalam memahami orang lain dengan mendengarkan secara aktif dan berempati dengan satu sama lain.
Dapat menangani konflik interpersonal dan kelompok dengan sepenuhnya memahami dan menerima sudut pandang orang lain.
Memecahkan masalah kompleks dengan memiliki pemikiran kritis dan keterampilan kolaboratif yang lebih efektif.
Menjadi pemimpin yang lebih efektif dengan memiliki lebih banyak kepercayaan diri.
Berkembangnya karir dengan memiliki jaringan yang lebih efektif.
- Pada dasarnya softskill tidak jauh berbeda dengan bakat. Dengan kata lain softskill merupakan kemampuan non teknis pada diri seseorang yang terlahir secara alami dan sangat penting dimiliki untuk terjun dalam dunia kerja. Karena softskill terlahir secara alami, maka softskill sendiri tidak bisa dipelajari di bangku sekolah, pelatihan, atau kuliah seperti ilmu pasti.
- Pentingnya sofskill terletak pada kenyataan bahwa mereka tidak terbatas pada bidang tertentu karena softskill terdiri dari kemampuan-kemampuan yang dapat digunakan dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, tanpa perlu mengadaptasinya berdasarkan situasi. Keterampilan lunak membuat orang fleksibel di dunia yang terus berubah.
- Terdapat beberapa cara untuk dapat meningkatkan softskill yaitu tentukan softskill yang ingin ditingkatkan, amati softskill positif dari orang lain, tetapkan pencapaian, memperbanyak interaksi dengan sesama, time management, dapat mengontrol emosi dan aktif mengikuti organisasi.
- Softskill terbagi atas dua, yaitu softskill internal dan eksternal.Softskill internal adalah kemampuan terkait bagaimana seorang individu merelasikan dirinya dengan dirinya sendiri dan meliputi, misalnya, kepercayaan diri, menerima kritik, pemikiran kritis, ketahanan, dan pertumbuhan pola pikir. Softskill eksternal adalah kemampuan terkait bagaimana seorang individu berhubungan dengan individu lain dan lingkungan di sekitarnya. Contoh softskill eksternal mencakup keterampilan dalam kolaborasi, komunikasi interpersonal, menangani konflik, kemampuan beradaptasi, networking, dan bernegosiasi.